Showing posts with label CARDIAC. Show all posts
Showing posts with label CARDIAC. Show all posts
Sunday, 2 June 2013
Saturday, 12 January 2013
Algoritma Takikardia Dengan Nadi ACLS
Algoritma takikardia dengan nadi ACLS 2010
Algoritma takikardia dengan nadi ACLS 2005
Saturday, 5 January 2013
Penatalaksanaan Hipertensi Pada Kehamilan (ESC Guidelines)
Definisi hipertensi pada kehamilan berdasarkan nilai tekanan darah
absolut (sistolik ≥ 140 atau diastolik ≥ 90 mmHg) dan dibedakan antara kenaikan
tekanan darah ringan (140-159/90-109 mmHg) atau berat (≥160/110mmHg).
Hipertensi pada kehamilan bukanlah kondisi tunggal tapi meliputi:
· Hipertensi
yang telah ada sebelumnya (hipertensi kronis); apakah sebelum hamil atau terjadi
sebelum 20 minggu kehamilan. Biasanya menetap lebih dari 42 hari setelah
melahirkan. Apabila terdapat hipertensi yang tidak terdiagnosa sebelum
kehamilan biasanya tekanan darahnya normal pada awal kehamilan karena pada
trimester pertama tekanan darah secara fisiologis menurun sehingga dapat menutupi hipertensi jenis ini dan jika
tekanan darahnya terukur meningkat pada saat usia kehamilan > 20 minggu maka
sering diinterpretasikan sebagai hipertensi gestasional.
· Hipertensi
gestasional: terjadi setelah 20 minggu gestasi dan sebagian besar kasus
berakhir dalam 42 hari setelah melahirkan
Ø
Pre-eklampsia:
hipertensi gestasional disertai proteinuria ≥ 0,3 g/24 jam atau creatinine
urine ≥ 30 mg/mmol sampel urine acak. Edema tidak lagi menjadi bagian kriteria
diagnostik karena edema terjadi pada 60 % kehamilan normal. Pre-eklampsia terjadi
lebih sering pada kehamilan pertama, kehamilan multipel, mola hidatidosa atau
penderita diabetes mellitus. Pre-eklampsia sering berhubungan dengan
insufisiensi plasenta, menyebabkan gangguan pertumbuhan janin sertap penyebab
utama terjadinya prematuritas, 25% pada semua neonatus dengan berat bayi lahir
sangat (kurang dari 1500 gram)
Tanda dan gejala pre-eklampsia berat :
a. Nyeri kuadaran kanan atas/epigastic karena
edema hati ± hepatic haemorrhage
b.
Nyeri kepala ± gangguan penglihatan (edema
serebral)
c.
Kebutaan lobus occipital
d.
Hiperrefleksia ± klonus
e. Sindroma HELLP: haemolisis, peningkatan enzim hati dan trombositopenia
Apabila pre-eklampsia diserta kejang
atau koma maka disebut eklampsia. Proteinuria bisa merupakan manifestasi akhir
dari pre-eklampsia, sebaiknya kita menduga jika terdapat hipertensi pertama
kali yang disertai dengan nyeri kepala, gangguan pengelihatan, nyeri abdominal
atau pemeriksaan laboratorium yang abnormal terutama trombositopenia dan enzim
hati yang tidak abnormal. Direkomendasikan untuk ditangani sebagai pasien
dengan pre-eklampsia.
· Hipertensi yang sebelumnya telah ada bersamaan
dengan hipertensi gestasional dengan proteinuria atau hipertensi kronis dengan
superimposed pre-eklampsia; ketika hipertensi kronis dengan perburukan
hipertensinya disertai proteinuria ≥ 0,3 g/24 jam yang terjadi setelah 20
minggu gestasi.
·
Hipertensi antenatal yang belum dapat
diklasifikasikan
Penatalaksanaan
hipertensi kehamilan
Tergantung dari tekanan darah, umur kehamilan dan ada atau
tidaknya faktor resiko maternal dan fetal yang terkait. Sebagian besar wanita
dengan hipertensi yang telah ada sebelumnya, saat hamil mempunyai hipertensi
ringan sampai sedang (140-160/90-109 mmHg) dan beresiko rendah terjadinya
komplikasi kardiovaskuler dalam suatu
periode singkat semasa hamil. Wanita dengan hipertensi esensial dan fungsi ginjal yang normal merupakan
kandidat terapi non-farmakologis karena tidak ada bukti bahwa dengan pemberian
obat membawa hasil lebih baik untuk neonatus.
Penatalaksanaan
Non-farmakologis dan pencegahan
hipertensi pada kehamilan
hipertensi pada kehamilan
Termasuk pengawasan ketat, pembatasan aktivitas dan istirahat
dengan posisi miring ke kiri. Penanganan ini harus dipertimbangkan untuk pasien
dengan tekanan darah sistolik 140-150 mmHg dan atau diastolik 90-99mmHg. Dianjurkan
diet normal tanpa disertai restriksi/pembatasan garam terutama jika mendekati
saat melahirkan karena dapat menyebabkan penurunan volume intravaskular. Pemberian
suplemen kalsium minimal 1 g per hari selama kehamilan, hampir setengah pasien
pre-eklampsia tidak menimbulkan bahaya apapun. Efeknya terbesar terjadi pada
wanita beresiko tinggi. Namun bagaimanapun juga penambahan kalsium untuk
mencegah hipertensi adalah bertentangan. Suplemen minyak ikan, vitamin dan gizi tidak mempunyai peran dalam
pencegahan hipertensi.
Pengurangan berat badan tidak dianjurkan selama kehamilan pada wanita obesitas, karena dapat menyebabkan penurunan berat badan dan gangguan pertumbuhan janin. Namun, ibu dengan obesitas dapat mengakibatkan dampak buruk baik bagi ibu sendiri maupun janinnya. Pedoman untuk rentang berat badan sehat pada kehamilan telah dibentuk dimana pada wanita hamil dengan indeks massa tubuh yang normal (BMI, 25 kg/m2) maka penambahan berat badan yang dianjurkan adalah 11,2-15,9 kg, sedangkan untuk ibu hamil dengan kelebihan berat badan (BMI 25,0-29,9 kg/m2) peningkatannya adalah 6,8-11,2 kg, dan untuk ibu hamil yang obesitas (BMI ≥ 30 kg/m2) peningkatan berat badan yang dianjurkan adalah 6,8 kg.
Pengurangan berat badan tidak dianjurkan selama kehamilan pada wanita obesitas, karena dapat menyebabkan penurunan berat badan dan gangguan pertumbuhan janin. Namun, ibu dengan obesitas dapat mengakibatkan dampak buruk baik bagi ibu sendiri maupun janinnya. Pedoman untuk rentang berat badan sehat pada kehamilan telah dibentuk dimana pada wanita hamil dengan indeks massa tubuh yang normal (BMI, 25 kg/m2) maka penambahan berat badan yang dianjurkan adalah 11,2-15,9 kg, sedangkan untuk ibu hamil dengan kelebihan berat badan (BMI 25,0-29,9 kg/m2) peningkatannya adalah 6,8-11,2 kg, dan untuk ibu hamil yang obesitas (BMI ≥ 30 kg/m2) peningkatan berat badan yang dianjurkan adalah 6,8 kg.
Penatalaksanaan
Farmakologis dan pencegahan
hipertensi pada kehamilan
hipertensi pada kehamilan
Walaupun terdapat konsensus bahwa penggunaan obat untuk hipertensi
berat pada kehamilan memberikan manfaat, namun pengobatan untuk kondisi
hipertensi ringan masih merupakan kontroversi karena dapat mengganggu perfusi
uteroplasenta dan membahayakan perkembangan janin meskipun mungkin berguna bagi
ibunya yang dapat menurunkan tekanan darahnya. Obat pilihan pertama untuk
hipertensi pada kehamilan adalah alfa metildopa. Labetolol juga memberikan
efektivitas sebanding dengan metildopa dan dapat diberikan secara iv pada
kondisi berat. Pemberian metoprolol juga direkomendasikan.
Calcium Channel blocker seperti nifedipin (oral) atau isradipine adalah obat pilihan kedua untuk terapi hipertensi. Obat-obatan golongan diatas dapat digunakan pada hipertensi emergensi atau hipertensi akibat pre-eklampsia. Potensi sinergis dengan magnesium sulfat dapat menginduksi hipertensi maternal dan hipoksia janin. Uradipil dapat juga digunakan untuk hipertensi emergensi. Magnesium sulfat iv merupakan obat yang dipilih untuk mengatasi kejang dan mencegah eklamspsia. Penggunaan diuretik harus dihindari karena menurunkan aliran darah ke plasenta dan tidak direkomendasikan untuk diberikan pada kasus pre-eklampsia. Penggunaan ACE inhibitor, ARB dan inhibitor renin langsung merupakan kontraindikasi saat kehamilan karena bersifat toksik terhadap fetus terutama pada trimester kedua dan ketiga. Jika tidak sengaja meminumnya pada saat trimester pertama maka ganti dengan obat yang lain dan dianjurkan monitoring ketat termasuk dengan usg janin.
Calcium Channel blocker seperti nifedipin (oral) atau isradipine adalah obat pilihan kedua untuk terapi hipertensi. Obat-obatan golongan diatas dapat digunakan pada hipertensi emergensi atau hipertensi akibat pre-eklampsia. Potensi sinergis dengan magnesium sulfat dapat menginduksi hipertensi maternal dan hipoksia janin. Uradipil dapat juga digunakan untuk hipertensi emergensi. Magnesium sulfat iv merupakan obat yang dipilih untuk mengatasi kejang dan mencegah eklamspsia. Penggunaan diuretik harus dihindari karena menurunkan aliran darah ke plasenta dan tidak direkomendasikan untuk diberikan pada kasus pre-eklampsia. Penggunaan ACE inhibitor, ARB dan inhibitor renin langsung merupakan kontraindikasi saat kehamilan karena bersifat toksik terhadap fetus terutama pada trimester kedua dan ketiga. Jika tidak sengaja meminumnya pada saat trimester pertama maka ganti dengan obat yang lain dan dianjurkan monitoring ketat termasuk dengan usg janin.
Tekanan darah sistole ≥ 170mmHg atau diastole ≥ 110mmHg pada
wanita hamil merupakan keadaan emergensi dan indikasi untuk rawat inap.
Penatalaksanaan farmakologis dapat dengan labetolol iv atau methyldopa oral
atau nifedipine. Hydralazine iv tidak lagi digunakan karena efek samping perinatal
yang lebih besar dibandingkan obat yang lain. Pilihan utama untuk krisis
hipertensi adalah infus sodium nitroprusside 0.25–5.0 µg/kg/min. Pemberian
sodium nitroprusside jangka panjang berhubungan dengan peningkatan terjadinya
keracunan cyanide pada janin akibat nitroprusside yang dimetabolisme menjadi
thiocyanate. Pilihan utama untuk pasien pre-eklampsia dengan edema paru adalah
infus nitrogliserin (glyceryl trinitrate) 5 µg/min dan ditingkatkan bertahap
tiap 3-5 menit sampai dosis maksimum 100µg/min
Persalinan
Induksi persalinan diindikasikan pada pre-eklampsia dengan kondisi
buruk seperti gangguan pengelihatan, abnormalitas koagulasi atau distres janin.
Menyusui
Pada ibu menyusui, proses laktasi tidak meningkatkan tekanan
darah. Semua obat antihipertensi diekskresikan melalui air susu ibu dengan
konsentrasi sangat rendah kecuali propanolol dan nifedipin.
Prognosis
setelah kehamilan
Tekanan darah biasanya meningkat selama 5 hari pertama masa nifas,
hipertensi postpartum sering dijumpai. Hindari penggunaan metildopa karena
resiko depresi postpartum.
Wanita yang mengalami hipertensi pada kehamilan pertama dengan
onset yang lebih cepat akan meningkatkan rekurensi terjadinya hipertensi pada kehamilan
berikutnya.
Wanita dengan hipertensi gestasional dan pre-eklampsia pada
umumnya meningkatkan resiko terjadinya hipertensi, stroke dan penyakit jantung
koroner pada masa tuanya. Pada pasien dengan pre-eklampsia, resiko relatif
berkembang menjadi penyakit jantung koroner adalah 2x lipat dan hipertensi
hampir 4x lipat lebih besar jika dibandingkan pada wanita hamil yang normal. Modifikasi
gaya hidup merupakan indikasi primer untuk menurunkan resiko kardiovaskuler
dikemudian hari. Direkomendasikan kontrol teratur ke dokter untuk pemeriksaan
tekanan darah dan faktor metabolik tiap tahun.
Rekomendasi
Penatalaksanaan Hipertensi
|
||
Rekomendasi
|
Kelas
|
level
|
Direkomendasikan dilakukan penatalaksanaan non-farmakologis bagi
wanita hamil yang memiliki SBP 140-150mmHg atau DBP 90-99mmHg
|
I
|
C
|
Pada wanita dengan hipertensi gestasional atau hipertensi yang
telah ada dan ditambah dengan hipertensi gestasional (hipertensi kronis
dengan superimposed hipertensi gestasional) atau dengan hipertensi dan
kerusakan organ subklinis atau gejala dalam masa kehamilan, inisiasi
pemberian obat direkomendasikan pada TD 140/90mmHg. Dalam keadaan lainnya,
inisiasi pengobatan pada SBP ≥150mmHg atau DBP ≥95mmHg
|
I
|
C
|
SBP ≥170mmHg atau DBP ≥110mmHg pada wanita hamil merupakan
kondisi emergensi dan direkomendasikan untuk rawat inap di rumah sakit
|
I
|
C
|
Penginduksian persalinan direkomendasikan bagi wanita yang
mengalami hipertensi gestasional dengan proteinuria dengan gangguan
pengelihatan atau abnormalitas koagulasi atau gawat janin
|
I
|
C
|
Pada pre-eklampsia dengan edema paru direkomendasikan pemberian
infus nitrogliserin
|
I
|
C
|
Pada hipertensi berat, direkomendasikan pemberian obat dengan
labetolol iv atau metildopa oral atau nifedipin
|
I
|
C
|
Wanita dengan hipertensi yang telah ada sebelumnya perlu
dipertimbangkan untuk meneruskan pengobatannya kecuali untuk ACE inhibitor,
ARB dan renin inhibitor langsung dengan pemantauan tekanan darah secara ketat
|
IIa
|
C
|
SBP:
systolic blood pressure; DBP: diastolic blood pressure
Referensi:
- Vera Regitz-Zagrosek, et al. 2011. ESC Guidelines on the Management of Cardiovascular Diseases during Pregnancy. European Heart Journal doi:10.1093/eurheartj/ehr218
Wednesday, 26 December 2012
Pemeriksaan Laboratorium Pada Infark Miokard
Infark jaringan miokard menyebabkan gangguan sarkolema, sehingga
makromolekul intraseluler bocor ke interstitium jantung dan akhirnya masuk ke
dalam aliran darah (Gambar 1). Deteksi molekul -molekul tersebut di dalam
serum, terutama troponin yang spesifik untuk jantung dan isoenzim creatine
kinase MB (CK-MB), mempunyai peranan diagnostik dan prognostik yang penting.
Pada pasien dengan STEMI (ST Segment Elevation Myocardial Infarction) atau NSTEMI (ST Segment Elevation Myocardial
Infarction) marker tersebut naik di atas ambang batas.
![]() |
| Gambar 1. Evolusi dari biomarker pada infark miokard akut |
A. Troponin
Troponin adalah protein dalam sel otot yang mengontrol interaksi
antara myosin dan aktin yang terdiri dari tiga subunit: TnC, TnI, dan TnT.
Meskipun subunit ini ditemukan baik di otot rangka / skeletal dan otot jantung
namun bentuk troponin I (cTnI) dan troponin T (cTnT) di otot jantung secara
struktural unik dan sangat spesifik. Kadar Tropinon I dan Troponin T didalam
serum hampir tidak ada (negatif) pada orang sehat sehingga terdeteksinya atau
peningkatan yang sedikit saja dapat digunakan sebagai penanda yang sensitif dan
kuat dalam terjadinya kerusakan miosit. Sebagai catatan bahwa troponin jantung
dapat dideteksi dalam jumlah kecil dalam serum pada kondisi-kondisi lain yang
menyebabkan regangan atau inflamasi jantung akut (misalnya, eksaserbasi gagal jantung,
miokarditis, krisis hipertensi, atau emboli paru yang dapat menyebabkan regangan
ventrikel kanan).
Pada Infark miokard, kadar serum troponin mulai meningkat 3 - 4 jam setelah awal timbulnya gejala atau discomfort, puncaknya antara 18 dan 36 jam dan
kemudian menurun perlahan, yang dapat
terdeteksi hingga 10-14 hari pada infark miokard yang luas. Dengan
demikian, pengukuran troponin dapat membantu untuk mendeteksi infark miokard
selama hampir 2 minggu setelah peristiwa tersebut terjadi. Mengingat
sensitivitas dan spesifisitasnya yang tinggi, troponin jantung adalah biomarker
serum utama dalam mendeteksi nekrosis miokard.
B. Creatine
Kinase
Enzim Creatine kinase (CK) secara reversibel mentransfer gugus
fosfat dari creatine phosphate ke ADP utntuk memproduksi ATP. Kreatin kinase
ditemukan di jantung, otot rangka, otak, dan organ lainnya sehingga kadar serum
enzim tersebut dapat meningkat karena cedera pada salah satu jaringan tersebut.
Namun, tiga isoenzim CK dapat meningkatkan spesifisitas diagnostik
jika dilihat dari segi asalnya: CK-MM (terutama ditemukan di otot rangka), CK-BB
(terutama di otak), dan CK-MB (terutama terlokalisasi di jantung). Sebagai catatan CK-MB dapat ditemukan sedikit
dalam jaringan di luar jantung, termasuk rahim, prostat, usus, diafragma, dan
lidah. CK-MB juga membentuk 1-3 % dari creatine kinase dalam otot rangka
/skeletal. Dengan tidak adanya trauma pada organ-organ lain dan jaringan, maka
elevasi CK-MB lebih mengarah pada cedera miokard. Jika menggunakan CK-MB untuk diagnosis infark miokard umumnya dengan menghitung
rasio CK-MB terhadap CK total yang nilainya > 2,5%.
Kadar serum CK-MB mulai
naik 3-8 jam setelah infark, puncaknya
pada 24 jam, dan kembali normal
dalam waktu 48 sampai 72 jam (lihat Gambar.1). Urutan waktu ini penting peningkatan CK-MB karena cedera diluar jantung atau non-infark miokard (misalnya,
miokarditis) biasanya tidak menunjukkan pola seperti ini dimana mencapai puncak
lebih lama. Hal ini menunjukkan bahwa CK-MB tidak sensitif atau spesifik
untuk mendeteksi cedera miokard berbeda jika diukur dengan troponin.
Kadar troponin dan CK-MB baru mulai meningkat beberapa jam setelah
timbulnya infark miokard sehingga jika nilainya
normal pada pemeriksaan pertama (misalnya, di rumah sakit gawat darurat) maka belum
bisa menyingkirkan adanya infark miokard akut, dapat diulang 3-6 jam kemudian.
Referensi:
Lilly, et al. 2011. Acute Coronary Syndromes. In: Pathophysiology of Heart Disease : a Collaborative
Project of Medical Students and Faculty. 5th ed. 2011.
Saturday, 15 December 2012
Goldman Cardiac Risk Index in Non Cardiac Surgery
Criteria
|
Points
|
Goldman Classification Total Points
Class
I 0-5
points 1% complications
Class II 6-12 points 7% complications
Class III 13-25 points 14%
complications
Class IV >25 points 78% complications
|
History
·
Age > 70 y
·
Myocardial infarction within 6
months
|
5
10
|
|
Physical examination
·
S3 gallop or jugular venous
distention
·
Significant aortic stenosis
|
11
3
|
|
Electrocardiogram
·
Rhythm other than sinus or
premature atrial
contractions
·
> 5 PVC’s per minute
|
7
7
|
|
Poor
general medical status
PO2 < 60 or
PCO2 > 50 or K< 3.0 or HCO3 < 20 or
BUN >17.8 or
Creatinine >
3, elevated SGOT or
Chronic liver
disease or
Bedridden for noncardiac causes
|
3
|
|
Operation
·
Intraperitoneal, intrathoracic, or
aortic procedure
·
Emergency surgery
|
3
4
|
References:
1. Goldman L, Caldera DL, Nussbaum SR,
et. al. Multifactorial index of cardiac risk in noncardiac surgical
procedures. N. Engl J Med. 297:845, 1977
Lee's Revised Cardiac Risk Index
I.
CRITERIA
1. High Risk Surgery (Cardiac Risk >5%): 1 Point
·
intraperitoneal
·
intrathoracic
·
suprainguinal
vascular procedures
2. Coronary Artery Disease: 1 Point
·
Myocardial
Infarction history
·
Positive Exercise
Stress Test
·
Chest Pain secondary
to Myocardial
Infarction
·
Current use
of nitrates to control Angina
·
Pathologic Q waves on EKG
3. Congestive Heart Failure: 1 Point
·
Pulmonary
edema
·
Paroxysmal
nocturnal Dyspnea
·
Bibasilar
rales
·
S3 Gallup Rhythm
·
Chest XRay demonstrating pulmonary vascular congestion
4. Cerebrovascular Disease (TIA or CVA): 1 Point
5. Diabetes
Mellitus on Insulin: 1 Point
6. Serum
Creatinine >2.0 mg/dl: 1 Point
II.
INTERPRETATION
A. Scoring
1. Points 0: Class I Very Low (0.4%
complications)
2. Points 1: Class II Low (0.9%
complications)
3. Points 2: Class III Moderate (6.6%
complications)
4. Points 3: Class IV High (>11%
complications)
B. Complications predicted by above scoring
1. Myocardial Infarction
2. Pulmonary Embolism
3. Ventricular
Fibrillation
4. Cardiac Arrest
5. Complete Heart Block
III.
REFERENCES
A. Lee et
al, (1999). Derivation
and Prospective Validation of a Simple Index for Prediction of Cardiac Risk of Major
Noncardiac Surgery. Circulation 100:1043-9








